Sejarah Perkembangan Bahasa Arab

Sebagian ahli bahasa membagi bahasa dari aspek kemunculannya menjadi: Bahasa Samiyah (Semit); mencakup bahasa Arab, Ibrani, Sumeria, Kaldea, Habsyi (Ethiopia), Assyria, Babilonia, Punisia, Hamiri, dan Nabthea. Bahasa Ariya; mencakup bahasa Hindu kuno –Sansekerta– (termasuk turunannya adalah: bahasa Persia Kuno, bahasa Latin dan Jerman) dan derivatnya yang merupakan bahasa modern, yaitu bahasa Inggris, Jerman, Prancis, Italia, dan Spanyol. Dan Bahasa Thurani (Mesir kuno); Turki, Hongaria, Tartar, dan Mongolia.[1]

Ahli bahasa lainnya membagi bahasa dari aspek susunannya menjadi: 1) Bahasa ahadi, tersusun dari satu suku kata (maqtha), seperti bahasa Cina. Setiap makna dan kata mempunyai satu suku kata yang tidak berubah-ubah; 2) Bahasa mazji, lafadz-lafadz dalam bahasa ini tersusun dari dua kata.
Yang pertama menunjukkan kepada makna pokok. Yang kedua menunjukkan kepada makna yang menerangkan makna pokok, seperti pelaku, zaman (waktu), atau tempat.

Contohnya bahasa Turki dan bahasa Jepang; 3) Bahasa mutasharifah, yaitu bahasa yang kata dasarnya bisa berubah-ubah menjadi bentuk kata yang bermacam-macam. Setiap bentuk kata itu menunjukkan terhadap suatu makna yang tidak ditunjukkan oleh kata yang lainnya (berbeda-beda). Seperti bahasa Arab, Ibrani, dan Sumeria. Namun demikian, bahasa Arab memiliki keistimewaan karena keberadaannya sebagai bahasa yang memiliki isytiqâq dan i’rab secara bersamaan.[2] Selanjutnya bahasa Arab mengalami perkembangan yang terdiri dari beberapa priode, antara lain:[3]

Priode Jahiliyah, munculnya standarisari nilai-nilai pembentukan bahasa Arab fusha, dengan adanya beberapa kegiatan yang telah menjadi tradisi masyarakat Makah, berupa festival syair-syair Arab di pasar Ukaz, Majanah, Zul Majah, sehingga mendorong tersiar dan meluasnya bahasa Arab, yang pada akhirnya kegiatan tersebut dapat membentuk stsndarisasi bahasa Arab fusha dan kesusasteraannya.

Periode Permulaan Islam, turunnya al-Quran dengan membawa kosa-kata baru dengan jumlah luar biasa banyaknya menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa yang sempurma baik dalam kosa-kata, makna, gramatikal dan ilmu lainnya. Hingga perluasan wilayah-wilayah kekuasaan Islam sampai berdirinya Daulah Umayah. Setelah berkembang kekuasaan Islam, orang-orang Islam Arab pindah ke negeri baru, sampai masa Khulafa ar-Rasyidin.

Priode Bani Umayah, terjadinya percampuran orang-orang Arab dengan penduduk asli akibat logis dari perluasan wilayah Islam. Adanya upaya-upaya orang Arab untuk menyebarkan bahasa Arab ke wilayah melalui akspansi yang beradab. Melakukan Arabisasi dalam berbagai kehidupan, sehingga penduduk asli mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa agama dan pergaulan.

Priode Bani Abasiyah, pemerintahan Abasiyah berprinsip bahwa kejayaan pemerintahannya sangat tergantung kepada kemajuan agama Islam dan bahasa Arab, kemajuan agama Islam dipertahankan dengan melakukan pembedahan Al-Quran terhadap cabang-cabang disiplin ilmu pengetahuan baik ilmu agama ataupun ilmu pengetahuan lainnya. Bahasa Arab Badwi yang bersifat alamiah ini tetap dipertahankan dan dipandang sebagai bahasa yang bermutu tinggi dan murni, yang harus dikuasai oleh para keturunan Bani Abbas. Pada abad ke-4 H bahasa Arab fusha menjadi bahasa tulisan untuk keperluan administrasi, kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan bahas Arab mulai dipelajari melalui buku-buku, sehingga bahasa fusha berkembang dan meluas.

Priode Sesudah Abad ke-5 H, bahasa Arab tidak lagi menjadi bahasa politik dan administrasi pemerintahan, tetapi hanya menjadi bahasa agama. Hal ini terjadi setelah dunia Arab terpecah dan diperintah oleh penguasa politik non Arab (Bani Saljuk), yang mendeklarasikan bahasa Persia sebagai bahasa resmi negara Islam dibagian timur, sementara Turki Usmani (Khilafah Ustmani) yang menguasai dunia Arab yang lainnya, malah mendeklarasikan bahwa bahasa Turki sebagai bahasa administrasi pemerintahan. Sejak saat itu sampai abad ke7 H bahasa Arab semakin terdesak.

Periode bahasa Arab di zaman baru, kebangkitan bahasa Arab yang dilandasi dengan upaya pengembangan oleh kaum intelektual Mesir. Dengan ciri-ciri:

1. Bahasa Arab sebagai bahasa pengantar disekolah dan ketika perkuliahan;
2. Munculnya gerakan menghidupkan warisan budaya lama dan menghidupkan penggunaan kosakata asli dari bahasa fusha;
3. Adanya gerakan yang mendorang penerbitan dan percetakan dinegara-negara Arab, juga mencetak kembali buku-buku sastra Arab dari segala zaman dalam jumlah massif, begitupun penerbitan buku-buku dan berbagai kamus bahasa Arab.

Para intelektual melakukan counter terhadap pendapat yang menyerang bahasa Arab, hal tersebut terindikasi dengan: 1) Adanya usaha-usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Arab seperti pendirian Majma’ al-Lughah al-Arabiyyah pada tahun 1934 M di Mesir, lembaga tersebut bertujuan memelihara keutuhan dan kemurnian bahasa fusha dan melakukan usaha-usaha pengembangan, agar menjadi bahasa yang dinamis, maju dan mampu memenuhi tuntutan kemajuan dunia ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya; 2) Mendirikan lembaga pendidikan, khususnya pengajaran bahasa Arab seperti Al-Azhar jurusan bahasa Arab. Perhatian bangsa Arab tidak hanya terjadi di Mesir tetapi terjadi pula di negara Arab lainnya.

[1] ‘Atha Ibn Khalil, Taisir Wushul … hlm. 115
[2] Ibid
[3] Ahmad Izzan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, cet. III., Humaniora: Bandung. 2009. hlm. 15-44

Terimakasih telah membaca Sejarah Perkembangan Bahasa Arab

Jangan pernah puas jika Anda menemukan informasi yang Anda cari seperti Sejarah Perkembangan Bahasa Arab di halaman http://edu.dzihni.com, karena banyak halaman lain yang membahas lebih lengkap. Sekedar saran, jika untuk karya ilmiah seperti makalah, skripsi, tesis, disertasi dll jangan pernah mengambil referensi dari internet, karena internet tidak selamanya ada berbeda dengan buku, majalah, koran dll


Anda Sedang Membaca Tulisan dalam Kategori dengan judul Sejarah Perkembangan Bahasa Arab.By : edu.dZihni.com
Ditulis oleh: Admin